Wednesday, March 4, 2009
:: Aku mengaku mencintainya ::
Monday, March 2, 2009
:: Adab ::
(copied from al-fikrah.net)
Para Imam Salaf rahimakumullah, ada membincangkan tentang adab-adab ketika menulis/menyebut nama-nama tertentu, adab ini adalah satu perkara yang perlu dititik beratkan, dan tidak sewajarnya di abaikan begitu sahaja. Tulisan ini adalah sebagai peringatan dan panduan buat diri saya dan juga para netters AFN sekelian.
apabila menulis/menyebut:
1- Allah (عز و جل)
apabila menulis nama Allah, selepasnya perlu ditambah dengan perkataan: ( A’zza wa Jal ) atau (Ta’ala ) atau ( Subhanu Wa Ta’ala ) atau ( Tabarak Wa Ta’ala) atau (Jalla Thikruh) atau (Tabarak Asmoh)
2- Nabi (صلى الله عليه و سلم)
apabila menulis nama Nabi,selepasnya perlu ditambah dengan perkataan: صلى الله عليه و سلم. Ini perlulah ditulis dgn penuh tanpa singkatan.
3- para Sahabat (رضي الله عنهم)
sekiranya untuk para Sahabat, selepasnya perlu ditambah dengan perkataan: رضي الله عنه [Radial-Lah-hu-'anh]
4- Para Ulama' ( رحمهم الله)
sekiranya untuk para Ulama', hendaklah diletak selepasnya:
( رحمهم الله) [Rahima-hu-Llah]
** tambahan-tambahan perkataan ini adalah sebagai pengagungan untuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan juga merupakan doa [untuk selain Allah Jalla Thikruh], para pembaca apabila membaca nama-nama ini perlulah sebaiknya turut menyebut perkataan-perkataan tambahan ini walaupun ia tidak terdapat pada tulisan [kerana untuk merebut ganjaran pahala dengan menyebut perkataan ini]
selamat beramal!
:: Simbolik ::
Satu tips keselamatan:
Hal ini untuk mengelakkan penjenayah untuk mengenalpasti mangsanya. (Biasalah, perempuan dianggap lebih lemah dan amat sesuai utk menjadi mangsa).
Sekadar langkah berjaga2, selebihnya 'alaina an natawakkala 'alallah..:)
:: Pinjamkan ::
Terjemahan hadith:
Sesungguhnya Rasulullah mengeluarkan (mengarahkan utk keluar) gadis2, dan yang sudah bernikah tetapi belum berpindah ke rumah suami, dan yang remaja (masih kecil tetapi yg sudah boleh dinikahkan), dan yang telah baligh, pada kedua-dua hari raya. Bagi yang sedang haidh hendaklah mengasingkan diri dari musolla tetapi tetap mendengar seruan (khutbah, tadzkirah) dari Muslimin. Maka berkatalah salah seorang perempuan dari mereka: “Wahai Rasulullah, kalau seseorang dari kami tidak mempunyai jilbab -istilah utk pakaian wanita, yang menutup seluruh auratnya-, (bagaimana dia bisa keluar?).” Jawab baginda (selawat dan salam ke atasnya): “Maka hendaklah saudaranya (yg seislam) meminjamkan salah satu jilbabnya kepadanya (yg tidak memiliki jilbab).
(Hadith Riwayat al-Tirmidzi, katanya hadith ini Hasan Sahih, juga diriwayatkan oleh al-Bukhari & Muslim)
Pengajaran:
Terdapat beberapa pengajaran dari hadith ini, tetapi yg ingin ditekankan adalah bahagian akhir hadith tersebut, iaitu: meminjamkan tudung bagi saudara perempuan kita yang tidak memilikinya. Jadi, seandainya kita terlihat sahabat2 muslimah kita yg tidak bertudung, tak usah mengata & ‘cakap belakang’ tentangnya. Hampirinya dan beramah mesra dengannya, sekiranya dikenal pasti dia tidak memiliki tudung utk dipakai, pinjamkanlah kepadanya, atau hadiahkan. :) Hadith ini juga menunjukkan bahawa seseorang muslimah perlu mengambil berat tentang muslimah yg lain dan membantunya dalam mentaati perintah ALLAH. :)
Indahnya Islam!
:: Hartaku Hartaku ::
Terjemahan hadith:
Daripada Abu Hurayrah RA, katanya: Rasulullah (selawat & salam ke atas Baginda) bersabda: “Berkata seorang hamba, {Hartaku! Hartaku!} Sesungguhnya (kebaikan) padanya daripada harta itu cuma tiga perkara; apa yang dimakannya lalu ia habis, atau apa yang dipakainya lalu ia lusuh, atau apa yang diberi (sedekahkan kerana Allah SWT) lalu itulah yg memberinya kebaikan (utk saham akhirat). Apa (harta) yang selebihnya maka ia akan pergi dan tinggalkan harta itu kepada manusia (wasiat, harta pusaka dll).
(Sahih Muslim, Kitab al-Zuhdu wa al-Raqa iq, 14/208)
Pengajaran daripada hadith:
Difahami dari zhahir hadith di atas bahawa penggunaan harta yg membawa kepada kebahagiaan dunia akhirat hanyalah harta yg diinfakkan kepada manusia lain, semata2 utk mendapatkan redha ALLAH. Meski harta setinggi jabal Uhud, tanpa infak ke jalanNYA, tiadalah erti di sisi ALLAH, juga tidak langsung menguntungkan bisnes akhirat. Wallahua’lam.
JOM INFAK!
:: Agar buah hati tidak lagi takut hantu ::
Penulis: Ummu Rumman
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar
“Ummi, Ahmad pingin ke kamar mandi. Anterin ya Mi…”
Ummu Ahmad (bukan nama sebenarnya) kaget ketika suatu malam Ahmad, anaknya yang sudah berumur 10 tahun tiba-tiba minta diantarkan ke kamar mandi.
“Ahmad anak shalih… kok tumben minta diantar ke kamar mandi? Biasanya berani sendiri.”
“Ahmad takut ketemu hantu Mi…” kata Ahmad dengan wajah ketakutan.
Kisah ini mungkin sangat sering kita jumpai. Tak hanya anak kecil, bahkan banyak orang dewasa yang mengaku takut terhadap hantu. Masih banyaknya budaya dan kepercayaan terhadap hal-hal mistis yang bertentangan dengan syariat, ditambah lagi maraknya cerita maupun film-film misteri di tengah masyarakat semakin memperparah kerusakan dan mengikis keimanan.
Rasa takut anak kepada hantu, bagaimanapun harus mendapat perhatian khusus dari orang tua. Karena bila ketakutan sang anak tetap terpelihara, tak hanya membentuk mental penakut pada diri anak tetapi juga dapat mengurangi kesempurnaan tauhid yang sangat kita harapkan terbentuk pada diri sang anak.
Sekilas tentang Rasa Rakut (Khauf)
Sangat penting bagi orang tua untuk bisa melatih anak mengatur rasa takutnya. Bukan hanya sekedar agar anak menjadi pemberani, tetapi lebih karena rasa takut adalah bagian dari ibadah. Rasa takut adalah bagian dari rukun yang harus ada dalam ibadah, di samping rasa cinta dan harap.
Macam-macam takut
Ulama telah membagi rasa takut menjadi beberapa bagian, yaitu:
1. Takut ibadah atau disebut juga takut sirri (takut terhadap sesuatu yang ghaib).
Takut ibadah dibagi menjadi dua macam:
a. Takut kepada Allah, yaitu takut yang diiringi dengan merendahkan diri, pengagungan, dan ketundukan diri kepada Allah. Takut semacam inilah yang akan mendatangkan ketaqwaan dan ketaatan sepenuhnya kepada Allah. Oleh karena itu, rasa takut seperti ini hanya boleh ditujukan kepada Allah semata karena merupakan salah satu konsekuensi keimanan.
Allah berfirman, yang artinya, “Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran 175)
b. Takut kepada selain Allah, yaitu takut kepada selain Allah dalam hal sesuatu yang ditakuti itu sebenarnya tidak dapat melakukannya dan hanya Allah-lah yang dapat melakukannya. Takut semacam ini banyak terjadi pada berhala, takut pada orang mati, takutnya para penyembah kubur kepada walinya, dll. Rasa takut ini merupakan syirik akbar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari keIslaman.
2. Takut yang haram, yaitu takut kepada selain Allah, yang bukan ibadah tetapi menyebabkan ia melakukan keharaman atau meninggalkan kewajiban. Takut semacam ini dapat mengurangi ketauhidan seseorang.
3. Takut thobi’i (normal). Yaitu takut pada hal-hal yang bisa mencelakakan kita (dengan izin dan kekuatan dari Allah). Misalnya, takut pada binatang buas, api, dll. Takut semacam ini wajar ada pada diri manusia dan dibolehkan selama tidak melampaui batas.
4. Takut wahm (khayalan), yaitu takut pada sesuatu yang sebabnya tidak jelas. Misalnya, takut pada hantu. Takut semacam ini tercela.
Seorang anak yang masih dalam fase pertumbuhan dan sedang mengalami masa belajar, ia mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan kadang disertai pula daya imajinasi yang tinggi. Oleh karena itu, ketika ia mendengar cerita tentang berbagai macam hantu entah dari berbagai media massa, atau dari orang-orang di sekitarnya, hal tersebut bisa menimbulkan rasa takut yang berlebihan. Apalagi bila sang anak pernah mengalami trauma karena ditakut-takuti temannya atau karena pernah mengalami gangguan jin.
Rasa takut kepada hantu atau setan, bisa mengantarkan kepada syirik akbar. Jika sampai membawa pada peribadatan kepada selain Allah. Bentuknya bermacam-macam, ada yang memberi sesajian agar tidak diganggu, membaca berbagai mantera, datang kepada dukun untuk meminta jimat, dan sebagainya.
Pada anak, mungkin tak sampai separah itu. Namun tak jarang kita dapati, karena rasa takut kepada hantu atau semacamnya, anak menjadi takut keluar kamar untuk mengambil wudhu pada pagi hari. Sang anak menjadi menunda-nunda waktu shalat Subuhnya. Ini hanyalah salah satu contoh. Tetapi sekali lagi, hal ini dapat mengurangi kesempurnaan tauhid sang anak.
Ketakutan anak bisa diperparah jika orangtuanya pun tidak paham syariat sehingga demi mengatasi rasa takut anaknya sehingga membawa anak pada kesyirikan. Misalkan menggantungkan jimat pada anak sehingga sang anak terus bergantung pada jimat tersebut hingga ia dewasa.
Cara Mengatasi Rasa Takut Anak kepada Hantu
Bagi orang tua sangat penting mengetahui bagaimanakah cara mengatasi ketakutan anak dengan cara yang sesuai syariat. Antara lain:
1. Tanamkanlah pada anak tauhid dan aqidah yang benar.
Cobalah cari tahu apa yang sebenarnya ditakutkan oleh sang anak pada saat keadaannya tenang. Rangsanglah anak dengan beberapa pertanyaan. “Adik takut hantu ya? Memangnya hantu itu apa sih?”
Jika sang anak menjawab bahwa hantu adalah pocong, genderuwo, nyi loro kidul, kuntilanak, atau semacamnya, jelaskan bahwa hantu-hantu semacam itu tidak ada sama sekali sehingga tidak perlu ditakutkan. Jika yang ditakutkan anak adalah orang mati, maka jelaskanlah bahwa orang mati takkan bisa memberi manfaat maupun bahaya bagi orang yang masih hidup.
Adapun jika sang anak telah mengerti bahwa yang dimaksud orang-orang dengan hantu adalah penjelmaan dari setan atau jin yang hendak mengganggu manusia, maka orangtua haruslah menjelaskan kepada anak bahwa tidak ada kekuatan yang paling kuat kecuali kekuatan Allah. Seluruh makhluk, termasuk jin dan setan di bawah pengaturan Allah. Ajarkan pada anak meskipun seluruh jin dan manusia ingin mencelakakannya, akan tetapi Allah tidak menakdirkannya, maka ia takkan celaka. Begitu pula sebaliknya.
Sungguh indah contoh yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau menasehati Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang ketika itu masih kecil.Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata,
“Pada suatu hari saya pernah membonceng di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, “Wahai anak muda, sesungguhnya akan kuajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Ia juga akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, andaikan saja umat seluruhnya berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan andaikan saja mereka bersatu untuk menimpakan bahaya terhadapmu, mereka tidak akan bisa memberikan bahaya itu terhadapmu kecuali sesuatu yang Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembar catatan telah kering.” (HR. Tirmidzi)
Jelaskan pada anak pada hal apakah ia harus takut (yaitu takut kepada Allah), pada hal-hal apakah ia boleh takut tetapi tidak berlebihan dan hal-hal apa yang ia tidak boleh takut sama sekali. Hendaklah orang tua mengenalkan kepada anak-anaknya kepada Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Karena dengan pengenalan kepada Allah, seorang anak akan mengetahui keagungan Allah, keMahaKayaanNya, kekuasaan-Nya. Yang harus orang tua ingat, mengajarkan rasa takut kepada Allah juga harus disertai pengajaran rasa cinta dan harap kepada Allah. Sehingga hal ini menjadikan anak ikhlas dan giat dalam beramal serta tidak mudah putus asa.
2. Ajarkan wirid dan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ada banyak wirid dan doa yang bisa diajarkan pada anak. Misalnya, wirid pagi dan sore, doa sehari-hari seperti doa masuk WC, doa singgah di suatu tempat, doa hendak tidur, dll. Pilihlah bacaan wirid dan doa sesuai kapasitas kemampuan anak.
Tak hanya sekedar menghafal, tapi juga pahamkan mereka arti dari doa tersebut sehingga mereka mengamalkan doa-doa tersebut dengan penuh keyakinan akan manfaat doa bagi dirinya. Ajarkan pada anak bahwa doa dan wirid adalah senjata dan perisai bagi kaum mukmin. Karena itu, bila rasa takut menyerang, yang terbaik dilakukan adalah meminta perlindungan dan pertolongan Allah, Rabb seluruh makhluk. Sesekali ingatkan atau tanyakan pada anak arti dari doa tersebut. Sekaligus untuk mengetahui apakah sang anak sudah mengamalkan doa-doa tersebut ataukah belum.
3. Jauhkanlah anak dari hal-hal yang mendatangkan rasa takut kepada hantu.
Misalnya cerita misteri, patung dan lukisan makhluk bernyawa, dll. Cerita misteri atau berbau mistis kadang lebih menarik bagi anak karena imajinasi mereka yang tinggi dan masih belum terkontrol baik. Oleh karena itu, kenalkanlah anak dengan kisah-kisah para Nabi, sahabat-sahabat Rasulullah, maupun kisah shahih lain yang dapat mengajarkan anak keimanan, keberanian dan akhlaq yang baik. Jangan hanya sekedar menyediakannya buku/majalah, meskipun ini juga hal yang penting. Sesekali ceritakanlah langsung dengan lisan anda agar hikmah dan nilai kisah lebih mengena di hati anak. Ini juga akan lebih mendekatkan orang tua dengan sang buah hati.
4. Ajarkan pula pada anak untuk tidak menakut-nakuti temannya meski hanya bermaksud untuk bercanda. Pahamkan pada anak untuk bercanda dengan baik.
5. Bila orang tua ternyata adalah seorang penakut, berusahalah untuk tidak menampakkan hal tersebut di depan sang anak. Sebagaimana kita tidak ingin anak menjadi penakut, maka latihlah diri sendiri untuk tetap tenang dan menghilangkan sifat penakut dari diri kita.
Jika suatu ketika sifat penakut kita diketahui oleh sang anak, tak ada salahnya melibatkan anak dalam usaha menghilangkan sifat penakut kita. “Astagfirullah, tadi Ummi kok menjerit ya pas lampu mati? Menurut adik, Ummi harusnya gimana? Iya adik benar, harusnya tetap tenang dan minta perlindungan sama Allah. Lain kali kalau Ummi menjerit lagi, adik ingatin Ummi ya….” Hal ini juga akan mengajarkan pada anak bagaimana seharusnya ia bersikap ketika ada orang lain atau temannya yang ketakutan. Jangan pula menakut-nakuti anak dengan ancaman yang tak berdasar atau bertentangan dengan syariat. Misalnya, “Jangan main dekat sungai ya! Nanti diculik genderuwo penunggu sungai lho” Hal ini sering tanpa sadar dilakukan oleh para orang tua. Maka wahai para pendidik, bekalilah diri dengan ilmu syar’i dalam mendidik anak-anak kita.
6. Berdoalah untuk kebaikan anak
Hal yang sering luput dari orang tua adalah berdoa untuk anak-anaknya. Padahal doa merupakan salah satu pokok yang harus dipegang teguh orang tua. Doa orang tua bagi kebaikan anaknya adalah salah satu jenis doa yang dijanjikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan dikabulkan oleh Allah (HR. Baihaqi). Termasuk di antaranya, hendaknya orang tua mendoakan agar anak dilindungi dari gangguan setan.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memintakan perlindungan untuk Hasan dan Husain dengan mengucapkan,
“Aku memohon perlindungan untukmu berdua dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa, dan juga dari setiap mata yang jahat.” Selanjutnya beliau bersabda “Adalah bapak kalian (yaitu Ibrahim) dahulu juga memohonkan perlindungan untuk kedua puteranya, Ismail dan Ishaq, dengan kalimat seperti ini.” (HR. Bukhari)
Inilah sebagian cara yang semoga bisa mengatasi rasa takut anak terhadap hantu. Orang tua hendaknya bersabar dalam membantu anak mengatasi rasa takutnya dengan tetap memprioritaskan pendidikan aqidah dan tauhid pada anak. Semoga kelak anak tumbuh menjadi sosok muslim-muslimah yang beraqidah lurus, beramal shalih dan mempunyai ketawakkalan tinggi kepada Allah. Wallahu Ta’ala a’lam. (Ummu Rumman)
Maraji’:
Bila Anak Anda Takut Hantu, Ummu Khaulah, Majalah As Sunnah Edisi 02/Tahun VIII/1424H/2004M
Mendidik Anak Bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Muhammad Suwaid, penerbit Pustaka Arafah
Mutiara Faidah Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi, Abu ‘Isa Abdullah bin Salam, penerbit Divisi Bimbingan Masyarakat LBI Al Atsary Yogyakarta
Syarah Tiga Landasan Utama, Syaikh Abdullah bin Shalih al Fauzan, Pustaka At Tibyan
***
Wednesday, February 25, 2009
:: Yang diajar ::
كراهة السآمة علينا
(Sahih Bukhari, Hadith no: 66, Bab Ma Kaana An Nabiy Sollallahu 'alaihi Wasallam, 1/121)
عن أبي وائل قال كان عبد اللهيذكر الناس في كل خميس فقال له رجل يا أبا عبد الرحمن لوددت أنك ذكرتنا كل يوم قال أما إنه يمنعني من ذلك أني أكره أن أملكم وإني أتخولكم بالموعظة كما كان النبي صلى الله عليه وسلم يتخولنا بها مخافة السآمة علينا
(Sahih Bukhari, Hadith no: 68, Bab Man Ja'ala li Ahlil 'Ilmiy Ayyaaman Ma'luuman, 1/124)

Terjemahan hadith 1:
Daripada Ibn Mas'ud r.a katanya, Rasulullah (selawat dan salam ke atas Baginda) mengambil berat tentang kami dan telah menyediakan hari-hari yang tertentu untuk memberi peringatan & tadzkirah kepada kami, kerana takut kami berasa bosan (seandainya dilakukan setiap hari).
Terjemahan hadith 2:
Daripada Abi Waa'il katanya, Abdullah (ibn mas'ud) memberi tadzkirah/peringatan kepada orang ramai pada setiap hari khamis (sahaja), maka berkatalah seorang lelaki: "Wahai Abu Abd Rahman (Ibn Mas'ud), aku suka sekiranya kamu memberi kami peringatan pada setiap hari." (Kata Ibn Mas'ud), "Sesungguhnya apa yg menghalang aku daripada berbuat perkara itu (memberi peringatan setiap hari) adalah aku tidak suka untuk membuat kamu berasa bosan (oleh itu) aku memilih hari tertentu sahaja utk memberi peringatan, sebagaimana Rasulullah (selawat dan salam ke atas Baginda) memilih hari tertentu utk kami, (kerana) takut kami berasa bosan."
Pengajaran daripada dua hadith di atas:
1) Antara cara Rasulullah mentarbiyah sahabat, dengan tidak memberi peringatan (mengulang sesuatu -hal agama- yang sudah sedia diketahui) setiap hari kepada mereka kerana Baginda (selawat dan salam ke atas Baginda) amat memahami bahawa antara fitrah manusia adalah cepat bosan apabila sering diberi peringatan. Yang disampaikan oleh Rasulullah setiap hari adalah ilmu, iaitu sesuatu yg tidak diketahui sebelum ini.
2) Betapa sahabat amat syadid dalam mengikut sunnah & perbuatan Rasulullah (selawat dan salam ke atas Baginda).
3) Memberi peringatan itu tetap perlu, meski bukan setiap hari.
Kita sebagai ummat Muhammad (selawat dan salam ke atas Baginda), marilah mencontohi apa yang telah diajarkan kepada kita. Confirmed selamat dunia akhirat. :)
:: Coherence in the Quran (2) ::
An eloquent speech contains several components: 1) the central theme, 2) the preface, 3) the context, and 4) the conclusion. The Quran is undoubtedly the most eloquent speech. All of its surahs contain the above -mentioned four components.
Application of Nazm al-Quran in the interpretation of a surah requires the mufassir to identify these four elements through deliberation over each and single statement of the surah, on the one hand, and establish link among them, on the other.
The deliberation (tadabbur) needs to be done over and over again. Merely once or twice it may not do. As it appears from the term, Nazm al Quran is a theory advocating the fact that all the verses of a surah as well as the surahs of the Quran are closely connected to one another. The statements of the Quran, which, at times, appears to be incoherent as a matter of fact fully coherent. Nazm al-Quran may be defined as a theory confirming the existence of coherence in the Quran.
From Prof Israr Ahmad Khan's research paper.
To be continued...
:: Coherence in the Quran ::
Hundreds of tafsir works have been produced by Muslims scholars with a view to make the message of the Quran accessible to the mankind. These works represent various trends, different approaches, diverse methodologies, multifarious objectives, and numerous schools of thought. Consequently, different, and at times, mutually conflicting interpretations of the words of Allah has caused Muslims to feel confused and dejected.
Interestingly, scholars who have applied one and the same methodology to unfold the truth of the divine speech have also miserably failed to maintain the unity of the message of the Quran, and come up with uncompromisingly contradictory interpretations. This situation serves as an obvious indicator that there is something wrong in the methodology of the interpretation of the Quran.
In the twentieth century some Muslims scholars such as al-Farahi and Islahi proposed and also practically demonstrated a new methodology of tafsir known as Nazm al-Quran. To them, it is not merely an excellent miraculous feature of the Quran but also a methodology. Application of this methodology in the Quranic tafsir leads to the unity of message in the Quran. This methodology may enable the commentators of the Quran to develop various meanings of verses but there is no possibility of conflict among scholars while interpreting the Quran in terms of ideas.
To be continued..
Tuesday, February 24, 2009
:: Ud'uuni astajib lakum ::
Doa yang ALLAH ajar ada banyak dalam alquran & hadith-hadith. Bukanlah bermaksud kita tak boleh untuk berdoa selain yang ALLAH ajar. Kadang-kadang manusia ada macam-macam hajat. Cuma, bila saya fikir-fikir balik, rasanya doa yang tsabit dari alQuran & Sunnah tu dah merangkumi semuanya. Doa minta keampunan, kemudahan dalam urusan, hindari kezaliman, hilangkan kesedihan & ketakutan, mohon kesabaran, kebahagiaan ibubapa, dapat zuriat, mati dalam iman, dan banyak lagilah. Semua ada. Silap kita sendiri kerana tidak mencari.
Jom, kita sama-sama praktik doa-doa yang ALLAH ajar pada kita. ;) Di bawah ini saya senaraikan antara doa yg terdapat dalam alquran. (Rasanya ada banyak lagi yang saya terlepas pandang & tak tahu.) Cek sendiri terjemahannya dan berdoalah mengikut keadaan atau hajat yg diingini.
SUBHAANALLAH, BANYAKNYA SENJATA KITA!
p.s.: untuk lihat doa2 yang terdapat dalam hadith, boleh rujuk buku hisnul muslim. Ada banyak doa beserta sumbernya. Klik sini utk dapatkannya.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (البقرة: 127)
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (البقرة: 128)
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (البقرة: 201)
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (البقرة: 250)
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (البقرة: 286)
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ (آل عمران: 8)
رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (آل عمران: 16)
رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ (آل عمران: 53)
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (آل عمران: 147)
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (آل عمران: 191)
رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ (آل عمران: 193)
رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ (آل عمران: 194)
رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا (النساء: 75)
رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ (المائدة:83)
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (الأعراف:23)
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (الأعراف: 47)
رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ (الأعراف: 89)
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ (الأعراف:126)
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ * وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (يونس: 85-86)
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (إبراهيم:41)
رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا (الكهف: 10)
رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ (المؤمنون: 109)
رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (الفرقان: 65)
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (الفرقان: 74)
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (الحشر: 10)
رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (الممتحنة: 4)
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (الممتحنة: 5)
رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (التحريم: 8)
Saturday, February 21, 2009
:: Think in English or Arabic ::
Bab language tu memang susah la. Sir suruh jawab guna english 'level' sir. Susah tu... Apapun, sir ada bagi petua untuk kuasai sesuatu bahasa dengan cepat. Satu hari cuma perlu 10-15minit sebelum tidur, atau bila-bila. Caranya mudah sangat: Think in that particular language. Kalau bahasa Arab, fikir dalam bahasa Arab, dan seterusnya...
So, sebelum tidur, sebelum baca doa, cuba cerita balik apa yang kita lalui sepanjang hari tu dalam bahasa inggeris atau arab atau apa2 bahasa yang kita nak kuasai. Sebut kat mulut atau dalam hati. It really helps. terutamanya untuk kenal pasti vocabulary yang kita tak ada. :) Selamat mencuba!
:: Buat Isteri seorang pejuang ::
Jelmaanmu merentas bongkah sendu
Mengorban naluri merungkai pilu
Mengharungi gurun tanpa bayu
Isteriku
Kehadhiranmu adalah mustika
Mengerlip cahaya sakinah
Laksana bintang membentuk arah burujnya
Isteriku
Saban waktu , dirimu abdi di gobokku
Senyum manismu menenang jiwaku
Kerlinganmu mengorak senyumku
Kesetiaanmu menyejuk mataku
Isteriku
Ketika kesejukan mataku
Memandang wajahmu duhai isteriku
Memori ini mengimbau zaman remajaku
Dikala kuhamparkan tangan ke awan biru
Merintih harap isteri yang solehah
Penyejuk mata dan penyeri rumahtangga
Isteriku
Di senjakala, ku menongkat resah
Dirimu tersangkar dalam kemiskinanku
Dirimu tak punya manikam permata untuk kukalungkan
Tiada nota ringgit untuk kuunjukkan
Tiada lambang kemewahan untukku hamparkan
Dirimu hanya ku langir debu
Ku balutkan jubah
Ku hilangkan dahagamu secangkir Cuma
Ku hambat bosanmu seketika sahaja
Isteriku
Di hening subuh ku merenung sayu
Dirimu kesepian dalam kesibukkanku
Hari - hari berlabuh kita berasingan
Kesedihanmu, sementara diriku di medan
Kesakitanmu pun tiada aku disisi
Rumahku, dirimulah penanti setia
Sementara bagiku, ia hanyalah dangau persinggahan
Isteriku
Dirimu masih setia dalam sangkar yang sepi
Demi nilai cinta dan ketaatanmu
Isteriku
Dongaklah wajahmu ke atas
Hulurlah tanganmu ke hadapan
Tabahlah duhai isteriku
Tidakkan ku sia siakan hidupmu
Kan ku hidangkan ilmu buatmu
Kan ku bawamu ke alam perjuangan
Kan ku hantarkan ke perlembahan hidayah
Isteriku
Bajailah cinta kita
Tenggelamkanlah kemelut rasamu
Isteriku
Diriku tetap setia disampingmu
Sungguhpun kita jarang bertemu
Sayang isteriku
sayang isteriku
nukilanUstaz Nasarudin Tantawi
p.s. sayu sangat baca lirik ni. walaupun belum ditujukan utk saya, tapi tetap terasa di hati. :'(
Wednesday, February 11, 2009
:: Misleading Images ::
Why do you think some people go to university and devote themselves to study sociology? Most people might have the perception that when you learn sociology, it indicates that you are truly concern to help the society, offering humanitarian services to them, as well as being benevolent. But, what many people will never think of it is that in the real life, some are studying sociology as a tool to equip themselves with countless information about society, so that they can plan a better criminal steps, or briefly, being malevolent.
In sum, Peter L. Berger mentioned this situation in one remarkable sentence: ‘working with people’ can mean getting them out of slums or getting them into jail, selling them propaganda or robbing them of their money, making them produce better automobiles or making them better bombing pilots.That is one of the misleading images of Sociology, starting almost a hundred years ago up to recent era. Another misleading image portrayed is, sociologists never attempt to understand the society, and instead they tend to practice more. This is what people say, but the truth is vice-versa. Sociologists are not social reformers which intend to change to whole society institution; indeed they strive to an uphill battle sequentially to understand the society better.
There’s another misleading perception which -for me- is quite interesting and appealing. It’s about a deceptive image toward sociology of more recent date and more recent development in discipline. It sounds a bit like this: sociologist is a gatherer of statistics about human behaviors. Yes, it is true that many sociologists use statistics in developing theories and to understand what’s actually happening. However, it is to be born in mind that statistics or numbers alone are not sociology. Numbers become a part of sociology only when they are interpreted sociologically. It can be explained using this example:
Today, in IIUM Gombak, the percentage of male students is only 35% whereas female students have reached 65% in quantity. Had this percentage is left with no interpretation from sociological views, it will remain as numbers and insignificant. However, to make it a part of sociology and possessing a bigger meaning, the above percentage has to be interpreted this way:
1. Now women got more chances to study even to a higher level education institution, compared to our ancestors’ time.
2. Women are predicted to get married late. Pursuing studies seems to become the prioritized event in life.
3. Late marriage means children will ‘come’ later.
4. Women with degree/master degree tend to involve in career world, living the housewife title behind, which usually will force them to not to have much children.
[Back then, for Malay women, when they are asked about the quantity of the children, and the answer is 6, people will react by saying, “only six???!!!” but nowadays, when the answer is 6, people are more likely to say, “Six???!!! How do you take care all of them simultaneously??” It normally happens in urban lives.]
5. Smaller amount of children will lead to the decreasing population of society.
Now 35:65 becomes more noteworthy and essential. :)
:: Saya paling takut... ::
Saya pernah terfikir jawapannya,
…Takut kehilangan mereka yg saya sayang…
…Takut ALLAH uji dengan perkara yg tidak mampu saya tanggung…
…Takut tak dapat A…
…Takut dibanjiri fitnah…
…Takut mati…
…Takut…
...Takut…
…Takut…
Macam2…. Tapi dalam kelas Tafsir Madhu’i (thematic exegesis) petang tadi, ada satu ayat Ustaz Layeth Su’ud yg sangat menyentuh jiwa saya. Juga pada saya. ayat itu yang sepatutnya menjadi jawapan kepada persoalan di atas. Saya, kamu, dia, mereka, kita & semua hamba ALLAH seharusnya memberi jawapan:
“SAYA PALING TAKUT ALLAH TIDAK MENCINTAI SAYA…”
(T_T)
Thursday, February 5, 2009
:: Macam mana ::
My love may not be perfect, but it's true.. picture by barca
Wednesday, February 4, 2009
:: Vocab (3) ::
.jpg)
Ihsan :)
Tuesday, February 3, 2009
:: What should be taught (1) ::
What is Taught: The first mention of man in flight was by Roger Bacon, who drew a flying apparatus. Leonardo da Vinci also conceived of airborne transport and drew several prototypes.
What Should be Taught: Ibn Firnas of Islamic Spain invented, constructed and tested a flying machine in the 800's A.D. Roger Bacon learned of flying machines from Arabic references to Ibn Firnas' machine. The latter's invention antedates Bacon by 500 years and Da Vinci by some 700 years.
What is Taught: Glass mirrors were first produced in 1291 in Venice.
What Should be Taught: Glass mirrors were in use in Islamic Spain as early as the 11th century. The Venetians learned of the art of fine glass production from Syrian artisans during the 9th and 10th centuries.
What is Taught: Until the 14th century, the only type of clock available was the water clock. In 1335, a large mechanical clock was erected in Milan, Italy. This was possibly the first weight-driven clock.
What Should be Taught: A variety of mechanical clocks were produced by Spanish Muslim engineers, both large and small, and this knowledge was transmitted to Europe through Latin translations of Islamic books on mechanics. These clocks were weight-driven. Designs and illustrations of epi-cyclic and segmental gears were provided. One such clock included a mercury escapement. The latter type was directly copied by Europeans during the 15th century. In addition, during the 9th century, Ibn Firnas of Islamic Spain, according to Will Durant, invented a watch-like device which kept accurate time. The Muslims also constructed a variety of highly accurate astronomical clocks for use in their observatories.
What is Taught: In the 17th century, the pendulum was developed by Galileo during his teenage years. He noticed a chandelier swaying as it was being blown by the wind. As a result, he went home and invented the pendulum.
What Should be Taught: The pendulum was discovered by Ibn Yunus al-Masri during the 10th century, who was the first to study and document its oscillatory motion. Its value for use in clocks was introduced by Muslim physicists during the 15th century.
What is Taught: Movable type and the printing press was invented in the West by Johannes Gutenberg of Germany during the 15th century.
What Should be Taught: In 1454, Gutenberg developed the most sophisticated printing press of the Middle Ages. However, movable brass type was in use in Islamic Spain 100 years prior, and that is where the West's first printing devices were made.
What is Taught: Isaac Newton's 17th century study of lenses, light and prisms forms the foundation of the modern science of optics.
What Should be Taught: In the 1lth century al-Haytham determined virtually everything that Newton advanced regarding optics centuries prior and is regarded by numerous authorities as the "founder of optics. " There is little doubt that Newton was influenced by him. Al-Haytham was the most quoted physicist of the Middle Ages. His works were utilized and quoted by a greater number of European scholars during the 16th and 17th centuries than those of Newton and Galileo combined.
What is Taught: Isaac Newton, during the 17th century, discovered that white light consists of various rays of colored light.
What Should be Taught: This discovery was made in its entirety by al-Haytham (1lth century) and Kamal ad-Din (14th century). Newton did make original discoveries, but this was not one of them.
What is Taught: The concept of the finite nature of matter was first introduced by Antione Lavoisier during the 18th century. He discovered that, although matter may change its form or shape, its mass always remains the same. Thus, for instance, if water is heated to steam, if salt is dissolved in water or if a piece of wood is burned to ashes, the total mass remains unchanged.
What Should be Taught: The principles of this discovery were elaborated centuries before by Islamic Persia's great scholar, al-Biruni (d. 1050). Lavoisier was a disciple of the Muslim chemists and physicists and referred to their books frequently.
:: Vocab (2) ::
Synonyms: Stirring up
Sentence: If I ever feel weak you would come to me, riding my weakness and stoking my spirit.
Note: It sounds a bit similar to a kelantanese word, stokeng which means socks. Hihi…
Sunday, February 1, 2009
:: Jawapan 2 ::
Surah almujaadalah.
Sila buka sendiri surah tersebut untuk melihat kesahihannya. :)
:: Vocab (1) ::
Comeliness: The quality of being good looking and attractive.
Its synonyms: beauteousness, gorgeousness, loveliness
Note: It’s not from the word ‘comel’ in Malay though the meaning is almost similar. :) Pronoun ‘come’ as the word come which means ‘datang’.
Sentence: My comeliness decreases as my age increases… ;p